Monday, 12 July 2010

Rumah Idaman Saya

semua orang ada rumah idaman. saya pun ada rumah idaman. kalau tanya rumah idaman,...hmm teringat masa kelas diploma pendidikan masa semester 1. masa tu ada lecture tanya saya rumah idaman saya macam mana. saya pun menggambarkan rumah idaman saya macam di bawah ni

ni rumahnya

nak ada halaman macam ni

ruang santai macam ni


ruang santai yang ke-2

hahaha.macam mewah je citarasa saya ni kan.tapi dah ditanya pasal rumah idaman...ni la dia rumah idaman saya. suasana kayu-kayu, ada unsur air dan alam...suasana yang tenang dan damai.aman tenteram.

nak dijadikan cerita...after je lecturer tu tanya saya...dia pun pegi la tanya org ke 2. org ke 2 pun ceritakan la rumah idaman dia. then sampai la org yg ke 3. sengal betul org ke 3 ni. dia bangun, lantas memperkenalkan nama dia dan terus cakap

"rumah idaman saya, saya nak buat rumah sebelah rumah orang tu" sambil tangannya menunjukkan ke arah saya. haahahahaha, apa lagi satu kelas bantai gelak

then lect tu tanya

"kenapa awak nak buat rumah sebelah rumah dia?"

dan masa tu keadaan kelas tak habis gelak lagi. dia lak selamba je jawab

"saya nak jadi jiran dia"

lagi la gamat kelas tu...adoiyai...apa la ada classmate macam ni.terhibur je... dia pun menerangkan ciri-ciri rumah yg dia nak. selamba je dia jawab

"tak nak rumah besar, kecik sudah"

kemudian lect tanya pula dengan sorang lagi kawan saya ( kekasih gelapku itu) hahahaha..ni lagi sengal

" awak nak rumah macam mana?"

dengan bangga dia menjawab

" rumah 4 tingkat, yang ada lif. so, saya tak payah la naik tangga"

hakhakhak...lagi gamat kelas dibuatnya si Myazman ni...

apa pun setiap orang, setiap orang ada rumah idaman sendiri kan.... rumah tak ada lagi, tapi saya dah ada jiran.hehehehe

sesungguhnya, kawan2 dip. ed saya memang la best...

wehhh....aku rindu dengan korang semua

* sori la pada orang yang berkaitan dalam cerita ni...hahahaha

Tuesday, 6 July 2010

Bunga & Kerengga


Nice kan picture ni...kredit untuk Saufi Ahmad...siapa Saufi Ahmad dalam hidup saya??
Dia bukan kenalan rapat saya, jugatak pernah jadi anak murid saya, tapi dia pernah belajar di MRSM Batu Pahat. Macam mana saya kenal dengan dia???
Semua kerana program Sirih Pulang Ke Gagang (SPKG)
Dari sini saya kenal beliau dan juga rakan-rakan beliau...
Kerana saya tidak sempat bersama mereka pada tahun 2006
Kerana 2007 baru saya mula berkhidmat di MRSM Batu Pahat
Namun, andai ALLAH izinkan saya mengenali mereka...maka dengan izinNYA....

Dan TQ Saufi kerana memberi izin menggunakan gambar ini....
kerana saya sangat menghargai insan yang pandai mengambil gambar & juga insan yang pandai melukis....

Namun, entri kali ni bukan nak cerita pasal ni. Cuma gambar yang Saufi take ni
Pada saya, picture ni membawa maksud yang tersirat
Kalau kita lihat, biasa saja gambar ni kan
Bunga ciptaan ALLAH yang cantik bersama kerengga
Sekadar biasa
Lumrah makhluk kejadian ALLAH

Cuma, saya nak lari dari biasa
Berfikir dengan lebih meluas lagi
Antara makhluk flora & fauna & kehidupan manusia

Bunga....andai ada 1000 bunga, baunya, warnanya tetap tidak akan sama.....
Walaupun pada dasarnya, bunga adalah bunga
Namun tetap tidak sama

Begitu juga dengan manusia
Setiap manusia yang ALLAH jadikan di muka bumi ini
Tetap tidak sama walau pun kembar

Kerengga...kerengga tu kans edang mencari manisan atau madu bunga untuk dihisap
Dan membawa kebahagiaan kepada dirinya dan juga bunga
Kerana ada makhluk ALLAH memilihnya untuk dihisap

Namun, begitu juga dengan manusia
Setiap manusia yang ALLAH ajdikan di muka bumi ini
Pasti boleh membawa kebahagiaan kepada makhluk yang lain

Namun kerengga juga membawa kesakitan kepada bunga
Dan juga makhluk ALLAH yang lain
Sedangkan bunga itu telah memberi kebahagiaan kepada kerengga

Begitu juga dengan manusia
Ada manusia yang membawa kedukaan & kesakitan kepada makhluk yang lain
Sedangkan individu yang disakiti itu pernah / telah membawa kebahagiaan kepada dirinya
Mungkin juga kebahagiaan yang berpanjangan kepada dirinya
Namun, dibalas dengan kedukaan & kesakitan

Kadang kala manusia itu tidak sedar
Tanpa dia sedari, hati insan yang pernah membantu dirinya bahagia
Dilukai.........

Opssss......
Cukup dulu kisah kerengga & bunga
Sekadar metafora dalam kehidupan

Maka, saya memilih untuk menjadi bunga
Memberi kebahagiaan kepada orang lain
Namun, nak juga jadi mawar berduri...
Sape jahat, cucuk je dengan duri
(^_^)

sama-sama kita hayati keindahan ciptaan ALLAH

saranghe (^_^)



Monday, 5 July 2010

Berkongsi: Mencintai sebelum menikah teladani sirah Saidina Ali dan Saidatina Fatimah...

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.

Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.

Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan membelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.

Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?

Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.

Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,

“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”


~yang salah dari pacaran itu bukan perasaannya, melainkan jalan yang kita pilih, untuk mempertanggungjawabkan perasaan tsb lah, yang tidak bijak...~

semoga istiqomah, ini memang tidak mudah.


Baarakallaahufiikum....


Source : Jalan cinta para pejuang Salim . A.fillah
Sirah Shahabat & Shahabiyah

saranghe (^_^)

Sunday, 4 July 2010

Laksanakan 4, Tinggalkan 4


Bagus untuk peringatan kita semua. Sama-sama lah kita mengingati antara satu sama lain.

Laksanakan 4 perkara supaya kita terselamat dari seksaan kubur dan moga ketika kita mati, kita dimatikan dalam situasi yang baik-baik bukan dalam kemalangan atau dalam tragedi buruk yang tak disangka-sangka.

Laksanakan 4 perkara berikut:

1. Banyak bersedekah.
2. Menjaga waktu sembahyang.
3. Kerajinan membaca Al-Quran lalu memahami isi kandungannya.
4. Kerajinan bertasbih dan berzikir (dapat menerangkan dan melapangkan kubur yang akan kita diami nanti).

Tinggalkan:

1. Sikap suka berdusta, membuat-membuat cerita dan sikap berbohong.
2. Sikap khianat, mungkir janji.
3. Sikap suka mengadu-ngadu.
4. sikap suka membuang air kecil sembarangan, terutama orang lelaki.

Mudah-mudahan mendapat syafaat. AMIN

sarang heyo (^_^)

3 Yang Menghancurkan Manusia


Kisah ini saya dapat dari seorang sahabat. Semoga kisah ini menjadi ikhtibar kepada kita semua

***************************************

Ketua pemuda ahli syurga, Hasan bin Ali radhiaLlahu anhuma, di dalam himpunan nasihat dan kata – kata hikmah yang terakam di dalam sejarah ketinggian ilmu dan budinya pernah bekata;

“Kehancuran manusia adalah pada 3 perkara: 1) Sifat takabbur. 2) Sifat Tamak. 3) Sifat dengki.

Adapun sifat takabbur, ia menghancurkan ugama dan kerananyalah iblis dilaknat oleh Allah. Sifat tamak pula, ia adalah musuh kepada diri sendiri dan kerananyalah nabi Adam dikeluarkan daripada syurga. Manakala sifat dengki adalah pengepala kepada kejahatan dan kerananyalah Qabil telah sanggup membunuh Habil.”
( Kitab ‘Allimu auladakum hubba aali baiti al nabi. ms 30 )

Inilah hikmah yang hebat dan cukup meruntun jiwa untuk menginsafi diri dan mendorong taqwa kepada Allah. Semoga Allah merahmati Hasan bin Ali radhiaLlahu anhuma dan menempatkan kita bersamanya dan para sahabat radhiaLlahu anhum di syurgaNya.

Inilah 3 sifat buruk yang disebut di dalam al Quran sebagai punca awal maksiat sang makhluk kepada tuhannya. Sebelumnya tiada satupun makhluk kecuali tunduk dan patuh kepada tuhan sang pencipta yang maha agung.

Ia bermula dengan sifat angkuh dan sombong Iblis yang enggan sujud kepada Adam alaihissalam. Di situlah bermula keengkaran dan kekufuran, lalu iblis dilaknat Allah.

Kemudian datuk kita terlalai oleh pujukan dan tipudaya iblis daripada mengingati pesanan tuhannya untuk tidak mendekati ‘pokok sambung nyawa’ di syurga itu. Nabi Adam didorong oleh ketamakan untuk kekal hidup tanpa mati di syurga menikmati anugerah Allah. Adam memakan daripada pokok itu, lalu baginda dihukum dengan dikeluarkan daripada syurga disebalik taubatnya yang diterima Allah.

Kemudian Allah menceritakan jenayah pertama di muka bumi yang dilakukan oleh Qabil yang telah sanggup membunuh saudara kandungnya sendiri, Habil kerana sifat dengki yang meluap – luap sehingga membutakannya daripada mendengar nasihat yang benar daripada saudaranya itu.

Sayyidina Hasan telah mengingatkan kita bahawa ketiga – tiga sifat buruk inilah yang akhirnya terus membunuh dan menghancurkan manusia selepas daripada itu. Manusia gagal mengambil iktibar daripada cerita – cerita awal kejadian manusia itu, gagal mengesan keburukan sifat – sifat tersebut di dalam tubuh mereka dan gagal menghindari dan mengubatinya.

Sifat takabbur adalah lawan sifat tawadhu’. Ia bermaksud membesar diri dan membangga – banggakan keadaan dirinya, seterusnya memandang leceh dan rendah terhadap orang lain. Inilah sifat paling buruk kerana daripadanyalah akan lahir dan bercabangan sifat – sifat buruk yang lain. Ini kerana sifat itu hanya layak untuk Allah dan menjadi milikNya semata – mata.

Sifat takabbur mudah dikesan kerana wujud tanda – tanda yang zahir, antaranya; suka menunjuk diri di khalayak ramai, menonjolkan kelebihannya di hadapan mereka, suka mengetuai majlis keramaian dan berlagak semasa berjalan, tidak suka kata – katanya ditolak sekalipun salah bahkan enggan menerima teguran dan memandang rendah terhadap orang yang lemah dan miskin.

Selain itu, antara tanda – tanda takabbur lagi adalah suka menyucikan diri sendiri dan memuji – mujinya, berbangga dengan keturunannya dan menunjuk – nunjuk dengan kekayaannya, ilmunya, ibadahnya, kecantikannya, kekuatannya, penyokong dan pembantunya yang ramai dan lain – lain lagi.
Sifat tamak pula adalah keinginan melampau untuk menikmati harta dan kedudukan. Tamak terhadap harta ada 2 peringkat;

Pertama, terlalu inginkan harta dan bersungguh – sungguh menperolehinya melalui jalannya yang harus dan dibenarkan. Ini tetap tercela kerana betapa banyak masanya dihabiskan untuk memburu harta sedangkan masa itu adalah emas yang lebih bernilai daripada harta. Masanya itu sepatutnya dihabiskan untuk memburu taqwa dan taat kepada Allah berbanding harta yang telah ditetapkan oleh Allah untuknya.

Kedua, ketamakan terhadap harta sehingga mendorongnya melampaui had yang dibenarkan syara’. Ia memasuki jalan – jalan haram tanpa lagi menghiraukan kemurkaan Allah. Inilah penyakit ‘asy syuhh’ ( terlalu bakhil ) yang diingatkan Allah di dalam al Quran agar dijauhi.

Sabda Rasulullah sallaLlahu alaihi wasallam: ” Berhati – hatilah kamu daripada sifat asy syuhh. Sesungguhnya asy syuhh itu telah menghancurkan orang sebelum kamu. Ia menyuruh kepada putus hubungan, lalu mereka memutuskannya. Ia menyuruh kepada kebakhilan, lalu mereka menjadi bakhil. Ia menyuruh kepada kejahatan, lalu mereka melakukan kejahatan.” ( Riwayat Abi Daud. Albani mensahihkannya.)

Adapun tamak kepada kedudukan, maka ia adalah lebih buruk daripada tamak kepada harta. Ia terbahagi kepada 2 bahagian;

Pertama, tamak kepada kedudukan melalui kuasa dan harta. Ini cukup bahaya kerana ia akan menghalang daripada kebaikan akhirat dan kemuliaannya. Orang yang menggilai kekuasaan tidak akan dibantu dan diberi petunjuk oleh Allah kecuali mereka yang menerimanya tanpa meminta.

Kedua, tamak kepada kedudukan melalui perkara – perkara ugama seperti ilmu, amal, kezuhudan dan sebagainya. Inilah seburuk – buruk ketamakan. Agama adalah untuk memburu dan mengejar ridha Allah dan kedudukan di sisiNya, tetapi mereka ini telah menyalah gunakannya untuk keduniaan.

Manakala sifat dengki pula, maka ia adalah lawan sifat suka dan mengimpikan kebaikan untuk orang lain. Dengki menjadikan tuannya terlalu mengimpikan sesuatu nikmat itu hilang daripada orang lain. Ia adalah penyakit yang buruk, hina dan menghancurkan segala kebaikan. Allah menyuruh nabiNya berdoa agar dijauhi daripada kejahatan mereka yang berdengki. ( Surah al ‘alaq; 5 )

Hasad dengki terjadi akibat beberapa perkara; permusuhan, kebencian, ujub, cintakan kedudukan, busuk hati dan lain – lain penyakit hati. Ia terlalu buruk dan menakutkan kerana ia boleh saja berlaku di kalangan sendiri, kawan – kawan, para ulama dan peniaga dan keluarga.

Itulah gambaran ringkas keburukan 3 penyakit utama yang menghancurkan manusia sebagaimana digambarkan oleh Sayyidina Hasan bin Ali radhiaLlahu anhu.

Semoga Allah memudahkan kita untuk menjauhi diri daripada berakhlak dengan akhlak – akhlak yang buruk dan terhina. Bersamalah menghias diri dengan sifat – sifat agama yang mulia.


sarang heyo (^_^)

Saturday, 3 July 2010

BUAT ADIK-ADIK PUTERI





Wahai kakakku,,,,,!!!
Kenapakah lemah sungguh kaum hawa itu,
Asyik berteman, tangis dan sendu sahaja???
Wahai adikku,,,
bukan wanita itu lemah dik, kerana tangis dan sendunya
Tetapi disitulah wahai adikku, kekuatan bisa meleburkan ego seorang lelaki
Dan menjadi Izzah yang lebih gagah, bahkan gagah dari egonya seorang lelaki
Kerana sendu rayunya, nabi Musa A.S, terselamat dari kekejaman Firaun
Duhai adikku,,,
lembut wanita itu bukan lemah, tetapi senjata.

Namun wahai kakakku,,,,,!!!!
Wanita itu fitnah dunia
Pernakah adikku dengar??? Pesanan Illahi pada hambanya???
Wahai lelaki lelaki yang beriman, tundukkanlah pandanganmu dan tutupkanlah auratmu
Cuba adik nilai, pada siapa terlebih dahulu Allah dahulukan pesanannya???
Pada hamba yang bergelar Ar Rijal
Kerana andai si lelaki menjaga pandangannya,
Maka tidak mungkin terlihat akan wanita yang menjadi fitnah pada dirinya.
Dan tidaklah Allah lupakan pesanan buat wanita,
Agar memelihara auratnya, karena disitulah kehormatannya.
Bukan fitnah semata mata jikalau Ar Rijal dan An Nisaa
Sama-sama mematuhi pesanan Illahi itu.
Sesungguhnya wanita yang beriman yang solehah itu lebih baik dari ribuan lelaki
yang soleh.

Tapi kakakku!!!
Kenapa wanita itu menjadi peragaan???
Tidakkah mereka merasa malu???
Wahai adikku sayang,,, Al Haya (sifat malu) ada dalam diri setiap insan
Wujudnya seiring dengan nafas insani dan Al Haya itulah pakaian iman
pada diri wanita, begitu indah Al Haya itu sebagai pembenteng diri
Namun??? Bilamana Al Haya itu lebur, maka luntur pula imannya
Kenapa sebahagian besar wanita merelakan diri mereka menjadi peragaan???
Kerana mereka sebenarnya paranoid, merasakan diri belum cukup menarik.
Mereka yang sebenarnya kalah dari segi psikologi. Namun adikku!!!
Wanita solehah itu pasti melindungi diri mereka dari perbuatan murahan itu.
Wahai adikku!!! 1001 keindahan penciptaan wanita,
pandai pandailah dikau menilai, antara permata dan debu debu kilauan pasir.

Wahai adikku!!! Janganlah adik gusar, tatkala tiada lelaki yang hadir memetikmu
Dan jangan engkau sekali kali merendahkan dirimu,
menggugurkan diri dan menyembah tanah,
sedangkan engkau sebenarnya telah Allah jadikan begitu tinggi
MARTABATMU !!!

Thursday, 1 July 2010

Untuk Renungan Bersama





“Bukanlah dikatakan kaya itu sebagai banyak harta. Akan tetapi kekayaan sebenar itu adalah kekayaan jiwa” [al-Bukhari 6446]

Renungkan dalam-dalam maksud ayat di atas. Adakah kita bahagia dengan banyaknya harta? Bahagia dengan banyaknya duit?
Ya, mungkin ada dalam kalangan kita yang memilih itu. Dan mungkin juga dalam kalangan kita akan menjawab sebegini

" kerja besar, gaji besar, kalau hati tak bahagia, hidup tak ada life, hati tak tenang pun tak guna"

Kebahagiaan apakah yang kita pilih??
Tepuk dada tanya selera. Tepuk dada tanya lah iman.
atau tepuk dada, kita berasa sakit.


Begitu juga dalam konteks sebagai pelajar. Adakah kita berasa gembira, bahagia apabila kita memiliki segalanya hasil daripada wang ibu bapa kita?? Bahagia kita memiliki MP3, MP4, handphone yang canggih manggih, lebih canggih dari guru kita, kita tunjuk pada kawan2 kita, sedangkan itu hasil titik peluh ibu bapa kita??
Bahagia apabila kawan2 kita melihat
"Fuyyo, canggih la benda ni. Kaya la kau...Mampu beli benda mahal macam ni"

Renungkan...bahagiakah kita

Bahagiakah kita apabila dapat berkahwin dengan lelaki kaya??? Bahagiakah kita apabila pekerjaan lelaki itu hebat???

" Bestnya kau, dapat kawen dengan doktor. Senang hidup kau"
Adakah kebahagiaan ini yang kita cari???


Itu antara contoh yang saya bagi. Banyak lagi contoh, namun semua itu ada dalam diri kita. Kita yang mencorakkannya. Kita yang menentukannya. Apakah makna bahagia yang kita cari??

Bahagia jiwa...itulah yang kita cari Kadangkala kita tertanya, kita dah ada segalanya, tapi kenapa masih lagi ada kekurangan?? Kenapa masih lagi kosong?? Kenapa masih lagi ada yang tak lengkap??

Justeru, tanya lah hati... Carilah apakah yang hilang itu...
Sesungguhnya, kebahagiaan hati, jiwa dan ketenangan yang kita cari...

Hargai orang-orang di sekeliling kita....
Hargai teman-teman di sekeliling kita...

Jaga perhubungan dengan semua orang di sekeliling kita

Dan yang paling penting, jaga hubungan dengan Pencipta

Hanya kepada DIA...kebahagiaan jiwa kita dapat.

sarang heyo (^_^)